Sutradara asal Tunisia, Kaouther Ben Hania, memberikan pandangan tajam mengenai keterkaitan erat antara sinema dan politik dalam sebuah diskusi panel di SXSW London 2026. Menurut Kaouther Ben Hania, setiap film pada dasarnya bersifat politik karena melibatkan pengambilan sudut pandang, pemilihan karakter utama, hingga penentuan elemen yang dimasukkan atau dibuang dari bingkai kamera. Pandangan ini bertolak belakang dengan sikap sejumlah juri Festival Film Berlin tahun ini yang sempat menuai kritik publik karena dinilai berusaha menghindari isu politik.
Berdasarkan jalannya diskusi, Kaouther Ben Hania menjelaskan alasannya memilih format drama fiksi ketimbang dokumenter untuk film terbarunya, The Voice of Hind Rajab. Film tersebut mengangkat kisah nyata tragis seorang anak perempuan Palestina berusia enam tahun yang tewas oleh serangan pasukan Israel di Gaza. Sutradara yang telah meraih tiga nominasi Oscar ini menganggap keputusan untuk tidak mengeksploitasi gambar-gambar kekerasan mentah merupakan salah satu bentuk perlawanan, sekaligus memberikan ruang bagi karakter Palestina untuk tampil dengan kompleksitas moral yang utuh layaknya manusia biasa.
Dari pantauan redaksi, diskusi ini juga mengungkap adanya paradoks besar dalam sistem pendanaan film internasional. Produser pendamping Nadim Cheikhrouha mengungkapkan bahwa institusi Barat sering kali menunjukkan ketertarikan yang timpang terhadap cerita-cerita bertema trauma dari negara-negara Global South. Menurut Nadim Cheikhrouha, proyek film berbahasa Arab kerap menghadapi hambatan finansial yang rumit, yang pada akhirnya berfungsi sebagai bentuk sensor terselubung untuk mengarahkan pembuat film dari Timur Tengah agar hanya memproduksi tema-tema tertentu seperti radikalisme atau penderitaan perempuan.
Pengamatan tim redaksi terhadap situasi industri hiburan global saat ini menunjukkan adanya tekanan yang semakin besar bagi para pembuat film independen, terutama yang datang dari wilayah konflik. Nadim Cheikhrouha menyayangkan sikap para komisioner film Eropa yang sering kali mempertanyakan legitimasi sutradara Arab ketika mencoba mengeksplorasi tema di luar stereotipe, sebuah standar ganda yang jarang diterapkan kepada sutradara pria kulit putih.
Melalui diskusi yang berlangsung dinamis tersebut, Kaouther Ben Hania turut mengingatkan para kolega dan penonton di London untuk tidak menyia-nyiakan kebebasan berekspresi dan fasilitas budaya yang mereka miliki saat ini. Berdasarkan pengalamannya yang lahir dari gelombang Arab Spring sebelum akhirnya menyaksikan Tunisia kembali ke arah kediktatoran, ia menegaskan bahwa ruang kebebasan dalam berkesenian dapat menyusut kapan saja jika tidak dijaga dengan ketat.